DO’AKU UNTUKMU PENCETAK MUSLIM
NEGARAWAN
Berawal
dari pesan singkat seseorang kala itu, tentang open house KAMMI di depan KPRI
Handayani, pada pesan tersebut, tertera nama Eka, saya kira seorang perempuan,
maka ku panggillah orang itu dengan panggilan mba, eh ternyata setelah
diberitahu mba Dian yang pada waktu itu satu atap, beliau adalah seorang mas,
yang juga kakak angkatan satu fakultasku, yang kemudian jadi Ketua Komisariat
di tahun berikutnya, beliau lah Ekapala Suryana. Itu sekelumit perkenalanku
dengan KAMMI, Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia.
Mendapat
title AB 1 (Anggota Biasa 1) KAMMI,
itu berarti sudah melewati gerbang utama untuk menjadi kader KAMMI. Dan masjid
Istiqomah Ungaran adalah tempat bersejarah bagiku. Tempat dilantik sebagai AB
1, tapi lupa dulu yang nglantik siapa, heee.
Masih
teringat pertama kali jatuh hati dengan KAMMI, hayo tebak gimana? Anda salah,
bukan karena Kakomnya, tapi karena jaket dua warna itu yang bertuliskan “Muslim
Negarawan”, keren kan? Sekali lagi Muslim Negarawan, dan sampai saat ini rasa itu masih belum luntur, masih tetap
mencintaimu.
Imajinasi
seorang anak yang masih lugu, Muslim Negarawan itu selain mengurus politik,
Negara dan bangsa mereka juga adalah orang yang ahli ibadah, pinter ngaji,
serta arif bijaksana. Dan di kemudian hari akupun menemukan jawabannya, “Kredo
Gerakan”, sebaris motivasi yang rutin dibaca sebelum acara KAMMI dimulai. Dan
ini alinea Kredo yang paling ku sukai, “Kami adalah
ilmuwan yang tajam analisisnya, pemuda yang kritis terhadap kebatilan, politisi
yang piawai mengalahkan muslihat musuh dan yang piawai dalam memperjuangkan
kepentingan umat, seorang pejuang di siang hari dan rahib di malam hari,
pemimpin yang bermoral, teguh pada prinsip dan mampu mentransformasikan
masyarakat, guru yang mampu memberikan kepahaman dan teladan, sahabat yang
tulus dan penuh kasih sayang, relawan yang mampu memecahkan masalah sosial,
warga yang ramah kepada masyarakatnya dan responsif terhadap masalah mereka,
manajer yang efektif dan efisien, panglima yang gagah berani dan pintar
bersiasat, prajurit yang setia, diplomat yang terampil berdialog, piawai
berwacana, luas pergaulannya, percaya diri yang tinggi, semangat yang berkobar
tinggi.” Kalau boleh
menyimpulkan dan teringat kata-kata mba Epha, Muslim Negarawan itu adalah orang
yang bisa menjadi apapun dan melakukan apapun untuk masyarakat, bangsa dan
Negara dengan dan dimanapun posisinya tanpa harus menjadi pejabat Negara yang
memiliki otoritas berdasarkan UU, tapi Muslim Negarawan yang memang memiliki
ideology islam yang mengakar, karena sebaik-baik manusia adalah yang bernanfaat
untuk orang lain. Semakin mempesona saja sosok ini, dengan jaket merah hitam
bertuliskan Muslim Negarawan.
KAMMI Unnes, di bawah bendera ini dalam dua periode kepengurusan
aku bernaung di bawahnya, menjadi bagian dari departemen social kemasyarakatan
(sosmas) dan departemen humas yang penuh cita, cinta dan cerita. Hemmm, KAMMI,
kau yang menyatukan kami dalam ukhuwah yang tak dapat diganti dengan materi
apapun di dunia ini, menemukan cinta tanpa topeng kebohongan, tulus tanpa
pamrih, dan ikhlas tanpa bayaran.
Bertemu dengan sosok Ekapala yang hobinya taujih panjang, berfikir
kritis yang sampai saat ini skripsinya on
process, mba Dian Walid mba Kaderisasi dimana-mana, mba Hikmawati yang
super romantic full love, mas Teguh
yang sok romantis, ketularan mba Ich, mas Dony yang penyayang kata anak PH
2013, mba Epha yang sedaerah, sosok satu angkatan Herlina, yang udah dikader
sama mba Ich #eh, Asma yang statusnya kontroversial, Ippeh yang super care, Ihsan yang pinter corel, Arum
& Arif Rizal dari gedung ungu, mas Amin yang kocak abis, mas Ipunk yang
kadang kalo ngomong Devi gak mudeng beliau ngomong apa saking tingginya
bahasanya, bisa diliat dari koleksi bukunya, Irfan & Amoy yang dari
Ngaliyan. Banyak kan? Merindukan suasana bersama KAMMI, seperti rindunya mba
Ich kepada kami, KAMMI dan Unnes.
Di usianya yang masih di bawah umur ini, KAMMI sudah termasuk
organisasi yang hebat, manhaj yang pasti, dan kesolidan kader yang sangat luar
biasa menjadi salah satu kuncinya. 16 tahun, KAMMI mengabdi untuk negeri,
sebagai organisasi pengkaderan dan pergerakan, yang akan terus bergerak dengan
dasar hukum amar ma’ruf nahi munkar.
KAMMI Unnes, dimana aku lahir sebagai Muslim Negarawan, insyaAlloh,
secara perekrutan kader untuk mengikuti Dauroh Marhalah 1 (DM 1) dibanding
dengan Komsat lain di Semarang, adalah komsat yang paling banyak merekrut,
bahkan pernah sampai sekitar 150an pendaftar tiap tahunnya, yang mengikuti
suplemen, seperti Madrasah Klasikal (MK) yang pada tahun kemarin memiliki nama
baru Madrasah Peradaban (M.Pd) hanya beberapa gelintir saja, bahkan tidak lebih
dari 20 orang.
Hanya ada beberapa kader yang memenuhi IJDK (Indeks Jati Diri
Kader) AB 1, tiap tahunnya yang mengikuti DM 2 yang berarti sudah memenuhi IJDK
tidak sampai 10 orang. Masih belum menemukan factor apa yang menyebabkan ini
semua, apakah departemen kaderisasinya? Kadernya? AB 1 nya? AB 2 nya? Atau
mungkin AB 3 nya? Atau mungkin ukhuwahnya? Entahlah, masih menjadi misteri
sampai saat ini, semoga lekas ditemukan solusinya. Dan menjadi organisasi yang
solid dengan kafaah keilmuan yang syumul mutakamil
Next, 29 Maret 1998-29 Maret 2014 #16thKAMMI, barokalloh fi umriki KAMMI
ku, tetaplah menjadi tempat lahirnya Muslim Negarawan yang qowiey kata mba Ich, pemimpin yang akan membentuk masyarakat islami
di Indonesia. Specially KAMMI Unnes,
semoga tahun ini LPJnya diterima, kadernya tambah banyak dan berkualitas.
Indonesia menanti kontribusimu sayang, ajak aku ketika kau berjalan di rel
kebaikan J.
HAPPY
MILAD KAMMI #16thKAMMI, BE STRONG, BE THE REAL MUSLIM NEGARAWAN.